TUNANETRA BACA PUISI

Hasil karya seni puisi tidak hanya dihasilkan oleh manusia normal. Penyandang tunanetrapun bisa membuat dengan indah. Bertempat di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jakarta Pusat. Sebuah antologi puisi bertajuk angin pun berbisik diluncurkan. Kumpulan sajak cinta tersebut karya Irwan Dwi Kuswanto seorang tunanetra bersama istrinya Siti Aminah dan anaknya Zeffa Yurihana

Acara ini diselenggarakan untuk memperingati hari Braille yang jatuh pada 4 januari, serta peringatan 2 tahun untuk 1000 buku untuk Tunanetra. Guru besar sastra Universitas Indonesia Melani Budianta dalam bedah antologi kemarin mengatakan antologi puisi ini cukup unik karena dibuat oleh sekeluarga.

“Dalam satu keluarga ada tiga orang penyair”. Ini memang benar-benar jarang dan pertama di Indonesia,” katanya.

Menurutnya pada antologi ini terdapat dialog yang dilakukan antara Irwan sang ayah dan Siti sebagai ibudan Zeffa si anak. “Biasanya puisi mengolah imajenasi, apa yang kita lihat, rasakan, dan dengar dengan keterbatasanya Irwan membuat puisi yang khas”, ujarnya.

Puisi juga tidak melulu tentang cinta misanya pada sajak cermin yang syarat tentang kritik sosial. Sajak itu bercerita untuk kita bercermin dengan air mata dengan keadaan mata terpejam,” imbuhnya.

Sedangkan Siti lanjutnya adalah seorang ibu yang mempunyai empati besar dan bisa menempatkan diri diposisi anak melalui sajak aku hanya anak kecil, Mama ia mengkriktik posisi ibu yang sering kali memaksakan kehendak pada anak.

Sementara Zeffa lanjut melani adalah anak yang ideal kritis dan penuh imajenatif dengan presfektif tulisan yng terkadang lucu. Pada sajak pasar yang berbunyi ,…. Pasar, banyak orang yng bertukar barang. Sedikit orang yang bertukar senyum, sedihnya…, Zeffa mencoba menggambarkan bahwa banyak hal yang bisa dibeli tapi, senyum tidak.

Puisi –puisi ditulis pada kurun waktu 2004-2007. Menurut Irwan, sebagian besar sajak itu adalah letupan dan pemberontakan jiwa terhadap kondisinya dan sikap masyarakat. Misalnya pada kata-kata kutembus tembok kampus, kulangkahi pagar-pagar bank dan ku bangun trotoar sendiri.

Saya pernah dikeluarkan dari bangku kuliah karena buta, mau menabung di bank ditolak dan sulit berjalan karena tidak ada trotoar.”, ujarnya.

Puisi-puisi itu juga merupakan kumpulan komunikasi cinta antara Irwan dan Istrinya yang tinggal berjauhan. Irwan tinggal di Yayasan Mitra Netra Jakarta dan Istrinya tinggal diTulungagung Jawa Timur, “Sebagian puisi juga sebagai senjata saya saat melamar istri saya,’ kata Irwan. Sebagian hasil penjualan antologi puisi setebal 164 halaman tersebut akan digunakan untuk membiayai GerakaN Seribu Buku tersebut.

Peluncuran antologi dilakukan atas kerjasama Yayasan Mitra Netra (YMN) dengan Voice of Human Rights (VHR), Perkumpulan Seni Indonesia (PSI) dan komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta.

Sumber : WartaKota kamis, 24 Januari 2008

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s